Thursday, 26 March 2026

Ironi yang Dinormalisasi

Dalam tahun ini, terhitung belum genap tiga bulan di saat saya menulis ini, sudah ada beberapa kasus tragis yang berhubungan dengan gangguan mental. Ada yang berujung menyakiti orang lain, tapi lebih banyak yang menyakiti diri sendiri hingga menghilangkan nyawa yang bagi mereka mungkin sudah tidak cukup berarti. Semua kejadian tragis itu tentunya memunculkan keprihatinan yang sangat mendalam, bagi keluarga dan juga seluruh masyarakat yang turut bersimpati dan berempati.

Di saat orang-orang bercerita, membahas semua itu, saya menyadari satu hal yang nyatanya sejalan dengan praduga saya, yang mungkin juga sejalan dengan pemikiran mereka, hingga enggan untuk bercerita atau meminta tolong, hingga akhirnya merasa satu-satunya untuk meredakan segala kegelisahan mereka adalah dengan memadamkan sumbernya: diri mereka sendiri.

Pada umumnya, awal mula orang-orang ini bertanya karena penasaran, lalu membangun opini dan mendeklarasikan kebenaran opini mereka. Satu yang saya tangkap: bahkan setelah para korban sekaligus pelaku ini sudah tiada, mereka pun masih dinilai salah dan bermasalah. Salah karena tidak bisa mengendalikan pikiran. Salah karena tidak bisa mengenali rasa. Salah karena salah mengambil keputusan. Salah karena menuruti pikiran dan pemikiran mereka yang sulit untuk berhenti bersuara. Salah karena tidak bercerita. Salah karena tidak meminta tolong. Salah karena menganggap dirinya hanya sendiri di dunia ini. Salah karena jika bercerita, substansinya dinilai banyak mengeluh. Salah karena berekspektasi tinggi pada lingkungan tempatnya hidup atau bekerja. Salah karena tidak mau menerima perbedaan orang lain. Salah karena terlalu bercita-cita di saat orang di sekitarnya tidak memiliki visi yang sama. Salah karena menyimpulkan perasaan dengan cara yang tidak wajar menurut  dan kesalahan lainnya.

Sepanjang saya mendengarkan, saya hanya diam sembari berhitung melipat jari. Membandingkan dengan diri saya sendiri, yang sesekali lepas kendali, tapi tak pernah berani untuk menyakiti siapapun atau apapun. Syukurlah, saya masih ingat Tuhan sesekali. Meratap berkali-kali, tapi pada akhirnya mencari pelarian untuk mengalihkan pikiran busuk yang sebenarnya ingin dibagikan ke orang lain, tapi tidak memungkinkan karena mereka terlalu sibuk dengan urusan dan masalah mereka sendiri.

Namun, apakah mental yang tidak baik-baik saja ini adalah murni kesalahan dan tanggung jawab diri sendiri? Apakah menyuruh mereka ini dan itu sudah termasuk membantu mereka pulih dari sakit tak terlihat ini? Sebagai orang yang tidak bijaksana, saya tidak lagi berani berpikir dan bersuara. Ketika pada akhirnya suatu saat nanti saya betul-betul hanya diam dan meringis saja tanpa bisa mendefinisikan apapun lagi, apakah saya akan disalahkan seperti itu juga? Saya tak masalah jika itu hanya saya yang disalahkan, saya takut ibu dan adik saya ikut tersangkut. 

Sebuah ironi, saya berusaha membantu orang lain mengenali dan mengatasi dari level terendah, tapi saya tak mampu berbuat hal yang sama untuk saya sendiri.

Monday, 9 March 2026

Salah dan Bermasalah

Selalu begini setiap habis beramai-ramai. Ada yang tidak bisa diungkapkan, mengganjal, tapi tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana. Setiap ingin bercerita, selalu ada benturan sana-sini yang mengunci mulut dan jari untuk berbagi. Bayang-bayang tanggapan "kamu kurang bersyukur, kamu terlalu memikirkan hal tidak penting, kamu keras hati dan tidak membuat orang lain nyaman, kamu terlalu menuntut, kamu terlalu memaksakan kehendak, kamu terlalu toksik, kamu terlalu banyak bicara" dan keterlaluan-keterlaluan yang lain" berputar-putar di otak.

Mengapa orang lain bisa bercerita, sedangkan aku baru akan membuka mulut saja sudah salah dan dipatahkan? 

Mengapa orang lain boleh meminta tolong, sedangkan aku berusaha melakukan tanggung jawab yang bukan merupakan kebutuhanku pun, mereka buru-buru ingin pergi karena memang mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar 5 menit mendengarkan penjelasan 4 hari yang sudah susah payah kuringkas menjadi beberapa kalimat?

Mengapa setiap kata dan tindakan yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi kata mereka bukan  kesalahan, tetapi lagi mereka mempermasalahkannya berulang kali tanpa aku tahu bahwa aku si biang masalah?

Mengapa jika aku muncul, orang-orang diam? Aku juga ingin pergi jauh, jauh, dan jauh dari siapapun agar aku tidak salah mengambil keputusan dan tidak menyakiti siapapun.

Mengapa orang selalu minta maaf, tapi aku tak yakin untuk apa: apakah memang mereka yang salah atau aku yang lagi-lagi keterlaluan seperti menyalahkan mereka?

Mengapa mereka mudah pergi begitu saja? Diawali dengan tiba-tiba datang membuatku senang karena merasa diingat sebagai manusia yang layak masuk ke dalam lingkaran, lalu seketika pergi berpindah ke lingkaran lain yang lebih terang tanpa menolehkan muka sedikitpun, meninggalkanku yang membereskan serpihan kenangan yang tercecer di dalam lingkaran lama. Trauma dan rasa nista mengendap dengan tidak indah. Jika sewaktu-waktu ada hantaman batu atau hujan yang masuk, endapan itu naik dan membuat segalanya kembali keruh dan lemah: pikiran, jiwa, kekuatan, dan kewarasan. 

Sudah setua ini, tapi masih seproblematik ini. Siapa yang salah? Aku lah pastinya.